Kamis, 15 Mei 2008

Latar Belakang


Banyaknya TKI yang mengundi nasib di luar negeri dan rata-rata bukan tenaga terampil menjadi bukti bahwa sebagai negara, Indonesia sesungguhnya belum mampu menunaikan tugasnya dalam mencerdaskan warganya. Selama bertahun-tahun para pemegang kebijakan hanya menyalurkan 1 % dari GDP (Gross Domestic Product) untuk bidang pendidikan. Padahal, negara-negara berkembang lain membiayai dunia pendidikannya sebesar 2,5 % GDP sementara negara maju mencapai 7 % GDP. Kebijakan ini telah mengakibatkan terpuruknya dunia pendidikan di Indonesia. Akibatnya, kualitas manusia Indonesia terus merosot di mata dunia. Di mana-mana orang Indonesia diremehkan dan harga diri bangsa Indonesia dicampakkan.

Apabila bangsa ini ingin terhormat di mata dunia, maka langkah pertama yang harus diambil oleh bangsa ini adalah mendidik anak-anak negeri dengan sebaik-baiknya. Sejarah telah mencatat bahwa bangsa yang besar dan terhormat adalah bangsa yang meletakkan pendidikan warganya di atas segala-galanya. Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat telah membuktikan kebenaran akan hal ini.

Pendidikan merupakan hak setiap warga negara (UUD 1945 pasal 31 ayat 1) dan pemerintah berkewajiban memenuhi hak itu. Namun pada kenyataannya peran pemerintah masih belum maksimal dalam memenuhi hak-hak pendidikan warganya, sehingga segenap komponen bangsa dituntut untuk ikut serta dalam penyelenggaraan pendidikan. Untuk itu, munculnya banyak lembaga pendidikan --beberapa diantaranya diakui sebagai unggulan-- di negeri ini merupakan hal positif yang harus terus dikembangkan.

Di Jawa Tengah, hampir di setiap kota terdapat lembaga pendidikan Islam unggulan dan favorit. Mereka telah menunjukkan kiprahnya dalam penyelenggaraan pendidikan berkualitas guna meningkatkan keimanan dan ketakwaan, kecerdasan, serta akhlak mulia anak-anak bangsa. Lembaga-lembaga itu senantiasa menggali potensi baru dan menemukan peluang baru dalam meningkatkan kualitas pelayanannya guna memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Berbagai permasalahan yang muncul telah mereka carikan jalan keluar sesuai dengan visi dan misi lembaga.

Seiring dengan perkembangan global, seluruh lembaga pendidikan mendapatkan tantangan baru baik dalam aspek budaya sekolah, kurikulum, kelembagaan, networking, maupun peningkatan SDM. Dalam aspek budaya sekolah, seluruh praktisi pendidikan merasakan bahwa pengaruh globalisasi informasi telah membawa dampak besar pada budaya orang tua, siswa, dan guru dalam menjalankan pendidikan. Tantangan-tantangan baru muncul terkait dengan perilaku siswa dalam kehidupan di sekolahnya, seperti narkoba, pornografi, gank, dan bullying (kekerasan).

Dalam aspek kurikulum, dominasi kognisi atas aspek psikomotor dan afeksi menyebabkan tumpulnya krativitas siswa dalam menyikapi perubahan-perubahan dalam kehidupan. Disamping itu, fakta bahwa tidak semua alumni SMA melanjutkan ke perguruan tinggi, bahkan diperkirakan 70 % alumni memilih langsung terjun ke masyarakat, membutuhkan solusi tersendiri. Walaupun fakta ini telah direspon pemerintah dengan mengarahkan 70 % orientasi pembelajaran SMA ke kejuruan (vocational) dan sisanya untuk pengayaan teori, namun perubahan orientasi ini masih membutuhkan sosialisasi yang luas dan perumusan aksi yang konkret.

Dalam aspek kelembagaan, efektivitas manajemen sangat dituntut agar mampu menghasilkan lembaga pendidikan yang kompetitif baik dari segi pembiayaan maupun kualitas. Seiring dengan semangat kompetisi yang bebas, nantinya seluruh lembaga pendidikan dituntut untuk semakin mandiri dan kreatif dalam menggali sumber-sumber pendanaan alternatif sehingga tidak mengandalkan sumbangan orang tua.

Dalam aspek networking, muncul tuntutan untuk meningkatkan kerjasama antar sesama lembaga pendidikan pada tingkat lokal, nasional, maupun international; antara lembaga pendidikan dan sektor industri, dan antara lembaga pendidikan dengan pemerintah. Perkembangan global telah menuntun masyarakat untuk sadar akan pentingnya jaringan dalam menggali dan memanfaatkan peluang-peluang baru.

Dalam aspek SDM, tantangan global menuntut SDM yang berkualitas international walaupun tetap mengusung local wisdom dan dididik oleh lembaga pendidikan lokal. Keterpurukan Indonesia saat ini telah membuka mata banyak pihak bahwa investasi terpenting yang harus diprioritaskan oleh seluruh lembaga adalah investasi di bidang SDM. Pengabaian investasi SDM hanya akan menyulitkan lembaga pada masa depan.

Terkait dengan tantangan global, banyak orang sepakat bahwa tidak semua pengaruh global bersifat positif dan tidak semuanya negatif. Cita ideal pendidikan Islam memiliki tugas luhur yakni membendung arus negatif dan memupuk arus positif globalisasi guna membentuk anak didik yang beriman, cerdas, dan berakhlak mulia. Pengaruh global harus dihadapi dengan kesiapan yang nyata baik dalam aspek budaya sekolah, kurikulum, kelembagaan, networking, maupun peningkatan SDM lembaga-lembaga pendidikan yang ada.

GLOBAL ISLAMIC EDUCATION EXPO I Jateng 2008 merupakan wahana pengenalan kepada masyarakat Jawa Tengah tentang keunggulan lembaga-lembaga pendidikan Islam Jawa Tengah agar masyarakat tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan informasi tentang lembaga pendidikan Islam terbaik. Dengan demikian, mereka tidak akan menyerahkan putra-putrinya ke lembaga-lembaga yang kurang memenuhi hak-hak keagamaan siswa-siswinya. Selama ini, keputusan memilih lembaga pendidikan yang dilakukan oleh kebanyakan orang tua belum didasarkan pada informasi yang komprehensif dan seimbang tentang suatu lembaga pendidikan. Ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran public relation sekolah-sekolah Islam bila dibanding dengan sekolah-sekolah Kristen.

Kegiatan ini sekaligus merupakan sarana membangun networking antara lembaga pendidikan dan masyarakat penggunanya (stakeholders) serta wahana memelihara kerjasama antar lembaga pendidikan Islam dalam rangka peningkatan kualitas lembaga. Selama ini kegiatan semacam ini belum pernah dilakukan dan sekolah-sekolah Islam praktis berjalan sendiri-sendiri. Padahal dengan membangun networking, banyak peluang akan didapat dan banyak manfaat bisa diraih. Tantangan seberat apapun, bila dijinjing bersama pasti akan terasa ringan dibawa.

Kegiatan ini sangat penting dalam rangka memaksimalkan kontribusi umat Islam dalam ikut serta mencerdaskan bangsa dan membangun generasi Indonesia masa depan yang cerdas dan bertakwa. Seiring dengan globaliasi, semua lembaga pendidikan Islam dituntut memberikan yang terbaik bagi bangsa.

Tujuan Kegiatan

Berdasarkan beberapa pokok pikiran di atas, maka tujuan kegiatan ini dapat disebutkan sebagai berikut:

1. Untuk membantu para praktisi pendidikan dalam mengenalkan keunggulan lembaga yang dikelolanya kepada masyarakat pengguna pendidikan.

2. Untuk membantu meningkatkan mutu pendidikan dengan cara menggalang kerja sama dan jaringan.

3. Untuk membantu memaksimalkan pengembangan segala potensi masing-masing lembaga baik dalam aspek kurikulum, kelembagaan, networking, peningkatan SDM, maupun budaya sekolah terkait dengan pengaruh globalisasi.

4. Untuk membentuk Badan Konsorsium Penyelenggara Pendidikan Islam (BKPPI) Jawa Tengah.

Signifikansi Kegiatan

1. Kegiatan ini dipandang sangat penting dan mendesak karena beberapa alasan: Keunggulan lembaga-lembaga pendidikan Islam selama ini belum dipromosikan secara baik sehingga pengetahuan masyarakat tentangnya sangat terbatas. Ini mendorong mereka untuk menyekolahkan anaknya ke lembaga-lembaga pendidikan yang kurang memenuhi hak-hak keagamaan siswa-siswinya.

2. Dengan semakin kompleksnya permasalahan pendidikan di tanah air, maka kerja sama dan networking semua lembaga pendidikan Islam sangat diperlukan.

3. Seiring dengan tantangan global, lembaga-lembaga pendidikan termasuk yang berbasiskan keislaman perlu meningkatkan kualitas pelayanan dalam mencerdaskan bangsa.

Tema Kegiatan

"Pendidikan unggulan yang berkualitas dan berdaya saing akan melahirkan putra-putri bangsa yang mampu merespon tantangan global”

Tempat dan Waktu Kegiatan

Kegiatan ini bertempat di Masjid Agung Jawa Tengah. Jl. Gajah Raya Semarang. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada hari Kamis, 12 Juni 2008 hingga Ahad, 15 Juni 2008.

Peserta

Kegiatan ini diikuti oleh 100 lembaga pendidikan Islam terfavorit (sekolah, madrasah, dan pondok pesantren) di Jawa Tengah ditambah tiga lembaga pendidikan terfavorit tingkat nasional dan beberapa penerbit buku.

Rangkaian Kegiatan

1. "Pameran Pendidikan" memperebutkan Trofi Kakanwil Depag Jawa Tengah 2008.

2. "Lomba Karya Tulis Ilmiah Populer" memperebutkan Trofi Dewan Pendidikan Jawa Tengah 2008.

3. "Lomba Penerbitan Sekolah (Majalah/Bulletin/Tabloid Sekolah)" memperebutkan Trofi MP3A Jawa Tengah 2008.

4. ”Lomba Pidato Bahasa Arab dan Inggris” memperebutkan Ketua DPRD Jateng 2008.

5. "Pentas Musik Islami".

6. "Sarasehan Pendidikan Islam Unggulan dalam Tantangan Global: Strategi Menghadapi Akreditasi dan Sertifikasi" sekaligus membentuk formatur Badan Konsorsium Penyelenggara Pendidikan Islam Jawa Tengah.

Trofi Juara Umum dari Gubernur Jawa Tengah diberikan kepada lembaga yang mampu memperebutkan trofi terbanyak dari seluruh kegiatan ini. Ketentuan-ketentuan rinci tentang berbagai kegiatan di atas akan ditentukan kemudian.

7. Pameran Buku-buku Islami.

KETENTUAN LOMBA DAN PAMERAN

Pameran Pendidikan

1. Ketentuan Umum

  1. Pameran pendidikan dilaksanakan di Convention Hall Masjid Agung Jawa Tengah pada hari Kamis s.d. Ahad, 12 s.d 15 Juni 2008.
  2. Pameran diikuti oleh satuan pendidikan (sekolah/madrasah/pesantren) favorit di Jawa Tengah, tiga lembaga pendidikan tingkat nasional, tiga lembaga tingkat ASEAN.
  3. Panitia menyediakan stand dan partisinya, lampu, stop kontak, dan energi listrik.
  4. Stand berukuran 3x4 M2 disewakan kepada peserta dengan harga Rp. 1.500.000,-/kavling selama pameran berlangsung.
  5. Pendaftaran dimulai 30 Maret 2008 dan ditutup tanggal 5 April 2008, selama stand masih tersedia.
  6. Semua peserta pameran akan dibukukan dalam Direktori Lembaga Pendidikan Islam Unggul di Jawa Tengah.

2. Ketentuan Khusus

  1. Dalam pameran pendidikan, lembaga pendidikan menampilkan:

- Ciri/khas keunikan

- Keunggulan

- Prestasi

- Potensi

b. Penilaian pameran meliputi:

-Kerapian

-Kebersihan

-Pelayanan pada pengunjung

-Penataan (tata ruang)

-Asesoris yang mendidik dan islami.

c. Kejuaraan

-Pameran pendidikan akan memilih tiga sekolah/madrasah sebagai peserta terbaik.

-Peserta terbaik akan memperoleh trofi dan piagam penghargaan.

-Pengumuman peserta terbaik dan penyerahan hadiah dilakukan pada acara penutupan GIEE I 2008, Minggu, 15 Juni 2008 jam 19.30 di Convention Hall Masjid Agung Jawa Tengah, Jl. Gajah Raya Semarang.

-Keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat.

3. Lain-lain

Hal-hal yang belum diatur dalam ketentuan ini akan ditentukan kemudian oleh panitia. Contact Person pameran: Rosyidi (081 802 429 227) atau e-mail: mp3ajateng@gmail.com

Rabu, 14 Mei 2008

Lomba Karya Tulis Ilmiah Populer

LOMBA KARYA TULIS ILMIAH POPULER

  1. Peserta mengirimkan naskah tulisan sebanyak 3 eksemplar.
  2. Naskah adalah hasil karya sendiri.
  3. Naskah diketik rapi dalam 4 halaman quarto spasi ganda.
  4. Naskah disertai dengan biografi singkat penulisnya lengkap dengan nomor telepon yang mudah dihubungi dan ditandatangani penulisnya.
  5. Tema tulisan: ”Pendidikan Islam dan Masa Depan Kawula Muda”.
  6. Penilaian naskah dilakukan oleh tim juri yang meliputi (keruntutan berpikir, gaya penulisan, dan kualitas gagasan).
  7. Naskah harus sudah sampai ke sekretariat panitia paling lambat Jum’at, 23 Mei 2008 pada jam kerja.
  8. Naskah dikirim via email mp3ajateng@gmail.com atau Sekretariat Panitia GIEE I 2008, Kantor MP3A Kanwil Depag Jateng, Jl. Sisingamangaraja No. 5 Telp. 8412547
  9. Peserta yang masuk dalam sepuluh terbaik akan diundang untuk mempresentasikan naskahnya.
  10. Presentasi para nominator dilakukan pada Sabtu, 14 Juni 2008, jam 14.00-selesai.
  11. Presentasi akan menentukan tiga peserta terbaik.
  12. Pengumuman hasil lomba dan penyerahan hadiah dilakukan pada acara penutupan GIEE I 2008, Minggu, 15 Juni 2008 jam 19.30 di Convention Hall Masjid Agung Jawa Tengah, Jl. Gajah Raya Semarang.
  13. Keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat.

Lomba Penerbitan Sekolah

  1. Yang masuk dalam kategori yang dilombakan adalah majalah/bulletin/tabloid sekolah.
  2. Masing-masing sekolah mengirimkan 2 volume terakhir, tiap volume sebanyak 2 eksemplar.
  3. Penilaian akan diambil berdasarkan isi dan tampilannya.
  4. Penilaian isi meliputi orsinalitas gagasan, visi kependidikan dan keislaman.
  5. Penilaian tampilan meliputi kreativitas lay out dan desain grafis.
  6. Majalah/bulletin/tabloid sekolah harus sudah sampai ke sekretariat panitia paling lambat Selasa, 10 Juni 2008 jam 15.00.
  7. Majalah/bulletin/tabloid sekolah dikirim ke: Sekretariat Panitia GIEE I 2008, Kantor MP3A Kanwil Depag Jateng, Jl. Sisingamangaraja No. 5 Telp. 8412547, 8503078. Contact Person: Rusmadi (081 802 802 115) atau e-mail: mpeajateng@gmail.com.
  8. Pengumuman hasil lomba dan penerimaan hadiah dilakukan pada acara penutupan GIEE I 2008, Minggu, 15 Juni 2005 jam 19.30 di Convention Hall Masjid Agung Jawa Tengah, Jl. Gajah Raya Semarang.
  9. Keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat.

LOMBA PIDATO BAHASA ARAB DAN INGGRIS

1. Setiap sekolah mengirimkan 2 peserta; satu untuk Arab, satu untuk Inggris.

2. Setiap peserta menyerahkan teks pidatonya pada saat technical meeting.

3. Technical meeting dilakukan pada Kamis, 12 Juni 2008 jam 14.00 di R. Graha Ki Ageng Pandanaran Masjid Agung Jawa Tengah.

4. Lomba akan dilaksanakan pada Jum'at, 13 Juni 2008 jam 08.30 –selesai di R. Graha Ki Ageng Pandanaran Masjid Agung Jawa Tengah.

5. Pidato disampaikan selama 10 menit.

6. Penilaian akan didasarkan pada:

-kelancaran pidato

-keruntutan berpikir

-penampilan

-Kualitas gagasan

7. Tema pidato: “Pendidikan Islam dan Masa Depan Kawula Muda”.

8. Nazca pidato dikirim via email ke mp3ajateng@gmail.com

9. Pengumuman hasil lomba dan penyerahan hadiah dilakukan pada acara penutupan GIEE I 2008, Minggu, 15 Juni 2005 jam 19.30 di Convention Hall Masjid Agung Jawa Tengah, Jl. Gajah Raya Semarang.

10. Keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat.

11. Contact Person: Rusmadi (081 802 802 115)

PAMERAN BUKU-BUKU ISLAMI (Islamic Book Fair)

  1. Pameran buku-buku Islami dilaksanakan di Convention Hall Masjid Agung Jawa Tengah pada hari Kamis s.d. Ahad, 12 s.d 15 Juni 2008.
  2. Pameran diikuti oleh para penerbit maupun distributor buku
  3. Panitia menyediakan stand dan partisinya, lampu, stop kontak, dan energi listrik.
  4. Stand berukuran 3x4 M2 disewakan kepada peserta dengan harga Rp. 1.500.000,-/kavling selama pameran berlangsung.
  5. Pendaftaran dimulai 3 Maret 2008 dan ditutup tanggal 5 April 2008, selama stand tersedia.
  1. Hal-hal yang belum diatur dalam ketentuan ini akan ditentukan kemudian oleh panitia. Contact Person pameran: Jamal Luthfi (081 7070 8381) atau e-mail: mp3ajateng@gmail.com

Latar Belakang

A. Latar Belakang
Banyaknya TKI yang mengundi nasib di luar negeri dan rata-rata bukan tenaga terampil menjadi bukti bahwa sebagai negara, Indonesia sesungguhnya belum mampu menunaikan tugasnya dalam mencerdaskan warganya. Selama bertahun-tahun para pemegang kebijakan hanya menyalurkan 1 % dari GDP (Gross Domestic Product) untuk bidang pendidikan. Padahal, negara-negara berkembang lain membiayai dunia pendidikannya sebesar 2,5 % GDP sementara negara maju mencapai 7 % GDP. Kebijakan ini telah mengakibatkan terpuruknya dunia pendidikan di Indonesia. Akibatnya, kualitas manusia Indonesia terus merosot di mata dunia. Di mana-mana orang Indonesia diremehkan dan harga diri bangsa Indonesia dicampakkan.



Apabila bangsa ini ingin terhormat di mata dunia, maka langkah pertama yang harus diambil oleh bangsa ini adalah mendidik anak-anak negeri dengan sebaik-baiknya. Sejarah telah mencatat bahwa bangsa yang besar dan terhormat adalah bangsa yang meletakkan pendidikan warganya di atas segala-galanya. Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat telah membuktikan kebenaran akan hal ini.
Pendidikan merupakan hak setiap warga negara (UUD 1945 pasal 31 ayat 1) dan pemerintah berkewajiban memenuhi hak itu. Namun pada kenyataannya peran pemerintah masih belum maksimal dalam memenuhi hak-hak pendidikan warganya, sehingga segenap komponen bangsa dituntut untuk ikut serta dalam penyelenggaraan pendidikan. Untuk itu, munculnya banyak lembaga pendidikan --beberapa diantaranya diakui sebagai unggulan-- di negeri ini merupakan hal positif yang harus terus dikembangkan.
Di Jawa Tengah, hampir di setiap kota terdapat lembaga pendidikan Islam unggulan dan favorit. Mereka telah menunjukkan kiprahnya dalam penyelenggaraan pendidikan berkualitas guna meningkatkan keimanan dan ketakwaan, kecerdasan, serta akhlak mulia anak-anak bangsa. Lembaga-lembaga itu senantiasa menggali potensi baru dan menemukan peluang baru dalam meningkatkan kualitas pelayanannya guna memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Berbagai permasalahan yang muncul telah mereka carikan jalan keluar sesuai dengan visi dan misi lembaga.
Seiring dengan perkembangan global, seluruh lembaga pendidikan mendapatkan tantangan baru baik dalam aspek budaya sekolah, kurikulum, kelembagaan, networking, maupun peningkatan SDM. Dalam aspek budaya sekolah, seluruh praktisi pendidikan merasakan bahwa pengaruh globalisasi informasi telah membawa dampak besar pada budaya orang tua, siswa, dan guru dalam menjalankan pendidikan. Tantangan-tantangan baru muncul terkait dengan perilaku siswa dalam kehidupan di sekolahnya, seperti narkoba, pornografi, gank, dan bullying (kekerasan).
Dalam aspek kurikulum, dominasi kognisi atas aspek psikomotor dan afeksi menyebabkan tumpulnya krativitas siswa dalam menyikapi perubahan-perubahan dalam kehidupan. Disamping itu, fakta bahwa tidak semua alumni SMA melanjutkan ke perguruan tinggi, bahkan diperkirakan 70 % alumni memilih langsung terjun ke masyarakat, membutuhkan solusi tersendiri. Walaupun fakta ini telah direspon pemerintah dengan mengarahkan 70 % orientasi pembelajaran SMA ke kejuruan (vocational) dan sisanya untuk pengayaan teori, namun perubahan orientasi ini masih membutuhkan sosialisasi yang luas dan perumusan aksi yang konkret.
Dalam aspek kelembagaan, efektivitas manajemen sangat dituntut agar mampu menghasilkan lembaga pendidikan yang kompetitif baik dari segi pembiayaan maupun kualitas. Seiring dengan semangat kompetisi yang bebas, nantinya seluruh lembaga pendidikan dituntut untuk semakin mandiri dan kreatif dalam menggali sumber-sumber pendanaan alternatif sehingga tidak mengandalkan sumbangan orang tua.
Dalam aspek networking, muncul tuntutan untuk meningkatkan kerjasama antar sesama lembaga pendidikan pada tingkat lokal, nasional, maupun international; antara lembaga pendidikan dan sektor industri, dan antara lembaga pendidikan dengan pemerintah. Perkembangan global telah menuntun masyarakat untuk sadar akan pentingnya jaringan dalam menggali dan memanfaatkan peluang-peluang baru.
Dalam aspek SDM, tantangan global menuntut SDM yang berkualitas international walaupun tetap mengusung local wisdom dan dididik oleh lembaga pendidikan lokal. Keterpurukan Indonesia saat ini telah membuka mata banyak pihak bahwa investasi terpenting yang harus diprioritaskan oleh seluruh lembaga adalah investasi di bidang SDM. Pengabaian investasi SDM hanya akan menyulitkan lembaga pada masa depan.
Terkait dengan tantangan global, banyak orang sepakat bahwa tidak semua pengaruh global bersifat positif dan tidak semuanya negatif. Cita ideal pendidikan Islam memiliki tugas luhur yakni membendung arus negatif dan memupuk arus positif globalisasi guna membentuk anak didik yang beriman, cerdas, dan berakhlak mulia. Pengaruh global harus dihadapi dengan kesiapan yang nyata baik dalam aspek budaya sekolah, kurikulum, kelembagaan, networking, maupun peningkatan SDM lembaga-lembaga pendidikan yang ada.
GLOBAL ISLAMIC EDUCATION EXPO I Jateng 2008 merupakan wahana pengenalan kepada masyarakat Jawa Tengah tentang keunggulan lembaga-lembaga pendidikan Islam Jawa Tengah agar masyarakat tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan informasi tentang lembaga pendidikan Islam terbaik. Dengan demikian, mereka tidak akan menyerahkan putra-putrinya ke lembaga-lembaga yang kurang memenuhi hak-hak keagamaan siswa-siswinya. Selama ini, keputusan memilih lembaga pendidikan yang dilakukan oleh kebanyakan orang tua belum didasarkan pada informasi yang komprehensif dan seimbang tentang suatu lembaga pendidikan. Ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran public relation sekolah-sekolah Islam bila dibanding dengan sekolah-sekolah Kristen.
Kegiatan ini sekaligus merupakan sarana membangun networking antara lembaga pendidikan dan masyarakat penggunanya (stakeholders) serta wahana memelihara kerjasama antar lembaga pendidikan Islam dalam rangka peningkatan kualitas lembaga. Selama ini kegiatan semacam ini belum pernah dilakukan dan sekolah-sekolah Islam praktis berjalan sendiri-sendiri. Padahal dengan membangun networking, banyak peluang akan didapat dan banyak manfaat bisa diraih. Tantangan seberat apapun, bila dijinjing bersama pasti akan terasa ringan dibawa.
Kegiatan ini sangat penting dalam rangka memaksimalkan kontribusi umat Islam dalam ikut serta mencerdaskan bangsa dan membangun generasi Indonesia masa depan yang cerdas dan bertakwa. Seiring dengan globaliasi, semua lembaga pendidikan Islam dituntut memberikan yang terbaik bagi bangsa.


selengkapnya..